Jumat, 12 Juni 2015

Revolusi Santet Massal, hingga Bunuh Diri Nasional



Budaya nongkrong, kumpul-kumpul, memang membuat kecanduan. Mulai geng anak muda di perkampungan, bapak-bapak tanpa organisasi di warung kopi, organisasi masjid, mahasiswa, pekerja, enggak lelaki, perempuan, perawan, janda maupun siapa saja, tak melewatkan moment harian bernama nongkrong. Selain asyik, nongkrong juga menyehatkan pikiran ketimbang menjadi generasi murung yang takut masa depannya suram.  

Berbagai macam tema diskusi spontanitas tak jarang berseliweran. Ngalor-ngidul, mulai nggosip koalisi para jomblo kesepian yang ngomongin strategi mbribik adik-adik semester dua, pernikahan Gibran Rakabuming Raka dan Selvi Ananda, isu beras plastik, gegernya ijazah palsu, hingga bagaimana revolusi yang sadisnya maksimal.

Berbagai macam tempat nongkrong bisa jadi pilihan. Mulai kedai kopi paling serius, kafe remang-remang, lesehan trotoar, warung kopi tradisional, hingga teras kos-kosan. Serasa hidup bebas di negeri benar merdeka. Kalau sudah begini mah enggak perduli di luar sana cicak-buaya adu kesaktian. Sementara koruptor asyik berebut duit APBD.

Bagi saya, bagi saya lho, angkringan (sego kucing atau kucingan, istilah di Semarang) adalah republik tanpa konsep yang dihuni orang-orang bahagia. Rasane hmmm,,, mung Dek Selvi sing ngerti perasaanku mbengi iki. #eh

Sego Kucing seperti republik kecil yang berada di depan gapura surga. Tak ada tuding menuding dan lempar melempar kesalahan, tak ada yang sok paling beragama. Adanya jamaah jomblo kesepian yang saling berbagi kepahitan dan kadang petugas Satpol PP bawa pentungan #ups...keceplosan.

Intinya, nongkrong di kucingan memang mengasyikkan, meski stabilitas isi dompet nyaris blong-blongan. Kalau Mahasiswa masuk Starbucks Coffe ya keren juga. Duduk dengan gaya orang kaya, tenang dan tampil elegan. Sesampai kamar kos kepalanya pusing--siapa lagi target sasaran utangan. Wah, kalau faktanya begitu jangan bilang kalau kamu mahasiswa UIN Walisongo Semarang lho. Apalagi bilang aslinya Kepil Wonosobo. Duh, betapa tercorengnya muka dunia persilatan.

Oh tidak, mestinya kita tidak perlu terpengaruh status apapun. Mau miskin, mau kaya, mau DO, mau Sarjana, mau jomblo, mau lulus semester empat belas, enggak urusan, yang paling penting mari ciptakan inspirasi-inspirasi. Jadilah republik ceria yang sanggup hidup di abad kekacauan sekalipun. Sebab dengan begitu, rakyat bisa bahagia tanpa harus nyusu kepada negara.

Itu termasuk revolusi. Ha mbok yao kalau mau revolusi tu ya ndak hanya demo-demo thok, itu mah enggak cerdas. Revolusi kok hanya menggonggong di depan halaman kantor DPRD, mesti rak mempan. Revolusi tuh yang ekstrim! Gagah dan berwibawa. Santet massaaaaaaal......, bunuh diri nasionaaaaaal (xixi, itu kata Cak Nun).

Salam....


Robic Ahsan





Kamis, 11 Juni 2015

Jangan Sebut Saya Lelaki Sejati Kalau Mati Berkalang Skripsi



Ketika mengetik tulisan ini, posisi saya sedang duduk manis di teras kios kelontong di sebuah pasar tradisional. Saya mengetik tulisan yang sedang Anda baca ini menggunakan handphone. Pemandangan di depan saya adalah lalu lalang orang-orang, kurang lebih pukul sepuluh siang.

Ini murni curhat. Curhat soal mantan #eh. Bukan, bukan, maksudku ini curhat soal anti kemapanan. Kebetulan, saya saat ini berstatus belum mapan. Bagaimana tidak, lhawong sampai saat ini status saya masih mahasiswa (yang tak kunjung nikah #ups wisuda maksud saya). Tapi belum semester 14 kug, jalan masihlah panjang untuk ditempuh. Jadi teringat, tagline pembelaan yang barangkali pas untuk kamu-kamu yang bernasib serupa dengan saya--adalah "hindari wisuda usia dini!" kwkwkw....

Tapi jangan salah. Bukan berarti saya adalah orang yang malas berpikir. Bukan, sumpah bukan. Justru saya adalah orang yang mudah tertarik melakukan penelitian. Bahkan, apa-apa yang terjadi di sekeliling saya, langsung saya tangkap (kecuali calon mertua #eh). Soal validitasnya bagaimana, metode ilmiahnya bagaimana, teknik pengumpulan datanya bagaimana, itu mah terserah bapakmu mau menerima saya lagi atau tidak #halah...

Misalnya, aktivitas apa yang dilakukan mahasiswa saat pertama kali bangun dari tidur? Ternyata jawabannya adalah memegang handphone. Sudah saya renungkan di bawah pohon kresen dalam kesunyian yang sempurna. Termasuk melakukan survey terhadap 10 mahasiswa. Hasilnya, sebanyak 9 dari 10 mahasiswa tersebut membenarkan bahwa aktivitas kali pertama saat bangun dari tidur adalah memegang handphone. 1 orang mengaku memegang Anu. Duh...

Kenapa memegang handphone? Apakah memantau berita terkini pagi ini, update twitter, facebook, path, instagram, atau apa? Oh, ternyata tidak semuanya. Hal pertama yang dicek adalah pesan masuk. Menurut 9 dari 10 orang yang saya teliti, alasan mengecek pesan masuk baik di SMS maupun BBM adalah mengecek apakah ada ucapan selamat pagi dari cewek gebetan, atau tidak.

Celakanya, 9 orang yang menjawab demikian, 90 persen di antaranya menahan kecewa mendalam. Sebab, pesan dari kekasih pujaan hati seperti yang diharapkan ya tinggal harapan palsu sepalsu-palsunya. Pesan yang nongol justru SMS dari operator telekomunikasi.

"Plg Yth, paket BlackBerry Anda telah berakhir. Selanjutnya akan dikenakan tarif normal. Aktifkan kembali paket Flash Anda di *363#." Bedebah kuadrat to kui jenenge..

Karena seringnya melakukan penelitian seperti itulah, saya kemudian diuji untuk tidak segera menyelesaikan skripsi.

Daripada mumet mikir kamu (eh maksudku menyelesaikan skripsi), mending mengantar ibu saya belanja di pasar tradisional. Mben terkesan ono aktivitas. Ibu saya memang sering bengong saat melihat saya cengar-cengir sendiri, kebal-kebul sendiri, berlagak seperti Robert Downey Jr ketika berperan sebagai detektif Sherlock Holmes yang bersenjatakan cerutu. Sembari lantang berkata; jangan sebut saya lelaki sejati jika harus mati berkalang skripsi!

Ngopi sik bro mben ra emosinan.....



Robingul Ahsan


Kamis, 24 Juli 2014

Membaca Hilangnya Budaya Unggah-ungguh


MASYARAKAT Jawa, khususnya Semarang, barangkali akan kehilangan budaya unggah-ungguh. Diakui atau tidak, hingga saat ini budaya jawa, khususnya bahasa jawa mengalami krisis ajaran. Betapa ironisnya jika bahasa jawa yang notabene bahasa sendiri telah kehilangan peminat untuk memelajarinya, dibanding bahasa Inggris.

Secara sadar, kereta budaya terus berlangsung, namun betapa bahasa elit “Inggris” begitu mendominasi di setiap lini kehidupan kini. Baik di dalam pergaulan sehari-hari, komunikasi akademisi maupun dunia kerja. Seolah-olah masyarakat kita dituntut memelajari bahasa Inggris yang merupakan kebudayaan barat itu. Tak heran, jika masyarakat sekarang memilih mengursuskan anaknya pada bahasa Inggris. Sementara kursus bahasa Jawa sendiri justru malah menjadi asing di negeri sendiri.

Sehingga krisis ajaran budaya Jawa itu barangkali sudah dalam kondisi parah. Sudah selayaknya masyarakat dan pemerintah, untuk prihatin dan ikut memikirkannya solusinya.
Secara karakteristik masyarakatnya, hilangnya budaya Jawa, khususnya bahasa jawa makin hari mulai tampak memudar. Bahkan, masyarakat akan berada pada titik kehilangan unggah-ungguh.

Sebagaimana diungkapkan mantan Guru Besar UNS, Prof Sunarno Rekso Suharjo menilai gejala memudarnya budaya Jawa sedang menjadi bahan kajian bagi dunia pendidikan agar dapat dicari jalan penyelesaian secara metodologis dan rasional. Sebab, kalau tidak diperhatikan dan dicarikan titik temu, bisa saja budaya Jawa, benar-benar hilang. “Kita semua menjadi khawatir bila budaya Jawa, kemudian digeser dengan budaya luar negeri yang tidak cocok dengan perilaku wong njowo,” katanya belum lama ini.

Dia mengatakan, salah satu cara agar masyarakat tidak kehilangan budaya itu, perlu dihidupkan kembali pengamalan sila-sila yang terdapat dalam Pancasila. Kalau diperhatikan dengan seksama, kelima sila yang terdapat dalam Pancasila, merupakan manifestasi budaya asli Jawa. ”Sekarang yang terjadi kebanyakan murid dan mahasiswa tidak lagi memandang penting falsafah Pancasila,” katanya.

Terlebih jika benar mata pelajaran Pancasila akan dihapuskan dari kurikulum sekolah di Indonesia. Keprihatinan lunturnya ajaran Jawa itu, lanjut dia, bukan bentuk keegoisan daerah. ”Kita tidak berbicara soal kedaerahan. Kita bicara tentang budaya nasional yang taat pada Tuhan, berkeadilan dan menghormati hak setiap orang. Itu inti utama yang ingin dicapai. Seperti juga kita menghargai budaya unggah-ungguh,” tandas dia.

Dia mencontohkan, masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan bahasa Jawa kromo inggil. Padahal bahasa itu, sebagai bentuk unggah-ungguh dengan orang yang lebih tua. "Itu tugas pemerintah dan masyarakat Solo,” kritiknya. (Abdul Mughis)


Jejak Basahan, Kampung Terkecil di Semarang


Akibat tergerus kapitalisme, Kampung Basahan yang terletak di Kelurahan Sekayu Semarang Tengah atau Jalan Bojong (Sekarang Jalan Pemuda), nyaris punah. Bagaimana tidak, posisinya sekarang diapit antara Hotel Novotel dengan Semarang Theater.

Sangat ironis, tercatat sejak tahun 2005 silam, Kampung Basahan tinggal tersisa 2 Kepala Keluarga (KK) dan seorang pemulung bernama Sugiarto alias Mbah Baito (64). Pantas saja jika Kampung Basahan merupakan kampung terkecil di Kota Semarang.

Mbah Baito sendiri saat ini tidak mempunyai KK atau tempat tinggal. Sehari-hari ia hanya tinggal sebatang kara sebagai penduduk Perko (emper toko), berpenghasilan dari hasil memunguti sampah. Padahal dia merupakan penduduk asli di kampung tersebut.

Dua warga yang masih memunyai KK masing-masing Pujiati (71), Ngasimah (55). Rumahnya beralamat di Kampung Basahan RT 05/RW 03 Kelurahan Sekayu, Semarang Tengah. Saat ini, kampung ini berbentuk lorong sepanjang 70-an meter sebagai jalan pintas antara Jalan Pemuda ke Jalan Piere Tendean. Bisa dikatakan, di jalan yang mempunyai lebar sekira 1,5 meter itulah sebenarnya menjadi tetenger Kota Semarang memulai sejarah.

Demikian tragis, sedikit demi sedikit penduduk pribumi asal Kampung Basahan terusir secara permanen. Anehnya, dari ketiga penduduk yang tersisa, hanya Mbah Baito lah yang masih tinggal di Kampung Basahan tersebut. Dua di antaranya telah pindah di daerah Ngaliyan. Belum diketahui kenapa ia memilih mengontrakkan rumah yang berada di samping Novotel itu kepada pendatang.

Kendati tanah dan rumah Baito telah dibeli oleh investor, Mbah Baito tetap bertahan tinggal di Basahan. Dia megaku tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya itu. Meski sebenarnya, ia telah diajak pindah ke daerah Mangkang oleh anaknya.

Namun demikian, ia tetap ngotot tinggal di tempat itu. Kakek sebatangkara ini menjadi generasi terakhir di Kampung Basahan. “Sampai mati saya tetap tinggal di sini (Basahan-red). Saya sudah cukup senang hidup di Perko (emperan toko),” tutur kakek yang berprofesi sebagai pemulung saat ditemui LawangSewu Post di Basahan, belum lama ini.

Sempat menitikkan air mata, saat Mbah Baito mengingat masa Kampung Basahan masih menjadi kampung normal. “Dulu, di tempat ini banyak anak-anak bermain gobak sodor, gundu dan kalau malam ada warga yang jaga di pos kamling,” kenangnya.

Namun sekarang pemandangan itu sudah menjadi tontonan yang benar-benar mahal. Bahkan dipastikan tidak mungkin bakal terjadi kembali. Ia hanya bisa melihat gedung-gedung bertingkat, orang-orang berdasi, lalu lalang mobil mewah, dengan tatapan kosong.

Mengingat masa indah itu, terlihat jelas wajah Mbah Baito perih. Cerita masa kecil itu telah terbungkus rapi di hati menjadi kenangan. “Entahlah, dulu saat tanah saya akan dibeli oleh cukong, tiba-tiba saya ya mau saja. Mungkin karena butuh uang dan membelikan tanah untuk anak-anak sehingga akhirnya melepaskannya,” ujar Mbah Baito sembari main catur bersama LawangSewu Post.

Sejarah Singkat

Mengenai sejarah singkatnya, Mbah Baito menjelaskan dengan bahasa ringan. Dikatakannya, Kampung Basahan bukan basah (karena air) atau sering terjadi rob dan banjir. Namun pada mulanya ada seorang tokoh besar atau ulama penyebar agama Islam bernama Kiai Basah Sentot. Dia adalah murid Kanjeng Sunan Kalijaga. “Beliau yang “Babat Alas” kampung ini bersama sejumlah muridnya,” katanya sembari menyulut rokok Djarum 76.

Mbah Baito memperkirakan, kejadian itu terjadi sezaman dengan perang Diponegoro. Kiai Basahan kemudian mendirikan gubug-gubug yang kemudian menjadi rumah-rumah hingga menjadi perkampungan. “Sebutan Kampung Basahan sendiri yang memberi adalah para santri pengikut Kiai Basahan,” beber kakek pemungut sampah yang digaji Rp 70 ribu per-bulan oleh RW setempat.

Sementara itu, saksi sejarah yang lain Mbah Saman (74) mengatakan, dalam perkembangannya, jalan utama yang terletak di Selatan atau tembusan gang kampung itu dulu bernama Jalan Bojong sekarang Jalan Pemuda. Sepanjang Jalan Bojong dulu terdapat pusat kesenian bernama Kamarhola yang kemudian berganti Greece,” kata kakek yang tinggal di Sekayu RT 01/RW 01 Semarang Tengah itu.

Di tempat itulah, aktivitas kesenian di Kota Semarang berpusat. Diperkirakan, masa aktif sejak sebelum Indonesia merdeka hingga tahun 1960-an. Kesenian yang sering mengisi di antaranya adalah wayang wong Ngesti Pandowo. Di Jalan itu, dulu juga ada gedung pertujukan bioskop Mitropool, perpustakaan, dan balai wartawan. “Posisinya sekarang yang ditempati Mal Paragon itu lho,” ujar Saman menegaskan.

Nama-nama tempat di Kota Semarang sudah banyak yang berubah. Mbah Saman juga sempat bercerita waktu mudanya sering nongkrong di Prapatan Stenteling. Tentu saja LawangSewu Post hanya bisa melongo, tak paham apa itu Prapatan Stenteling? “Oiya, Prapatan Stenteling itu sekarang Simpanglima. Pinggir jalan itu, dulu masih berbentuk sawah,” katanya.

Terpisah, Lurah Sekayu Agus Prihartono mengakui belum sepenuhnya mendalami seluk beluk Kampung Basahan. Dia mengaku pendatang dan baru menjabat sebagai lurah belum lama. “Namun dari keterangan beberapa perangkat kelurahan, peristiwa jual beli tanah di Kampung Basahan terjadi pada tahun 2005 silam. Transaksi jual beli tanah itu tidak melibatkan pihak kelurahan. Investor melakukan negosiasi melalui notaris,” terang Agus. (Abdul Mughis)


Mengintip Bisnis Cewek Seksi di Balik Room Karaoke

Bisnis karaoke menjamur di setiap lini di Kota Semarang. Karaoke tak sekedar menjadi wahana pesta pora rakyat proletar saja, bahkan kalangan elit dan terpelajar pun kini kian menjadi peminat utama. Baginya, dengan bernyanyi bebas itu mampu melepaskan penat setelah terbelenggu kesibukan dunia kerja.

Barangkali itulah sebab mengapa hingga saat ini justru menjadikan karaoke sebagai bisnis yang menjanjikan. Atau malah di kalangan tertentu menganggap bernyanyi di tempat karaoke itu semakin menggempur moralitas bangsa yang berbudaya ketimuran, sehingga membesarkan bisnis itu sama artinya mendendangkan nyanyian “sampah” kota.

Seorang pengusaha karaoke Ar (34) mengatakan bahwa bisnis karaoke yang ia kelola mulanya hanya iseng-iseng dijadikan tempat nongkrong bagi teman-teman dekatnya. Namun dalam perkembangan berikutnya justru malah menghasilkan uang yang melimpah.

“Saya kemudian merekrut pegawai. Saya rasa ini juga mengurangi jumlah pengangguran di Kota Semarang lho,” ujar pria yang tinggal di Sendang Mulyo Tembalang ini.

Tak tanggung-tanggung, kata dia. Selain karaoke, bila pelanggan memerlukan pelayanan “khusus”, dia juga melayani karaoke plus. Ar mengaku mempunyai 7 wanita yang siap memberi service plus. “Di tangan MS, LI, SR, YN, CN, ST dan RS, pelanggan di jamin puas,” tambah pria yang enggan menyebut lokasi tempat bisnisnya itu.

Yang jelas, imbuhnya, dia mempunyai tempat mangkal atau base camp bisnisnya itu di daerah Semarang atas. Dikatakannya, ia baru menjalankan bisnis plusnya itu kurang lebih dua bulan yang lalu. “Sistem kerja dengan cara bagi hasil,” katanya.

Transaksi Tersembunyi

Dia juga mengaku, untuk bisnis plus ini memang masih dilakukan secara tersembunyi. Bahkan, transaksi hanya bisa dilakukan melalui orang-orang tertentu. Paling tidak yang telah mengenal atau telah menjadi pelanggan sebelumnya.

Diungkapkannya, sejauh ini justru pelanggan berasal dari kalangan menengah ke atas. Mulai kalangan pengusaha, pejabat hingga oknum kepolisian. "Transaksi melalui ponsel. Jika kedua belah pihak sepakat, kami kemudian mengantarnya sesuai hotel yang dipesan," ujarnya.

Terkait dengan pembagian hasil, ia menjelaskan, untuk setiap pemesanan kurang dari dua jam (short time) seharga Rp 350 ribu. Pembagiannya, Rp 100 ribu untuk calo. Rp 150 ribu untuk pekerjanya, dan Rp 100 ribu lagi untuk pengelola.

“Untuk calo biasanya ada yang berprofesi sebagai sopir taksi dan karyawan hotel,” tambahnya.

Pemesanan untuk 4-5 jam (long time), bandrol harganya Rp 700 ribu. Semetara paket eksklusif Rp 1.050.000. “Paket ini bisa diajak keluar ke mana saja pemesan mau,” terang Ar.

Terpisah, Dewi, sang pemilik rumah karaoke di Jalan Jolotundo I, RT 05/RW 02, kelurahan Gayamsari, Kecamatan Gayamsari, menampik jika tempat karaokenya tersebut dijadikan tempat esek-esek.

Hiburan Murni

Dia menerangkan bahwa tempat karaoke tersebut hanya sebagai tempat hiburan murni alias tidak melayani plus. Tempatnya disewakan Rp 25 ribu per jam. Dia mengaku usahanya itu bukan semata-mata bisnis, tapi sebagai tempat pelepas lelah dan merefresh segala kepenatan setelah seharian bekerja.

“Di sini menyediakan ribuan lagu dalam format DVD. Mulai lagu rakyat dangdut, pop, slow rock, hingga tembang-tembang lawas bertema cinta dan kenangan,” paparnya.

Di tempatnya memang dijumpai minuman beralkohol jenis congyang yang ia jual seharga Rp 30 ribu per botol ukuran kecil, dan botol besar Rp 50 ribu. Namun dia juga menyangkal jika minum alkohol di sana itu disebut pesta miras, istilahnya hanya sebagai penghangat alias “jamu”.

“Berawal dari hobby menyanyi, kemudian saya membuat tempat karaoke sendiri,” ujar ibu dua anak itu.

Sementara salah satu ketua RT di Jolotundo, Umardin Siregar menegaskan jika keberadaan rumah karaoke tersebut memang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Lingkungan menjadi terasa tidak nyaman, selain waktu operasionalnya yang tergolong panjang, yakni pukul 11.00 - 03.00, juga menyebabkan daerahnya kawasan tempat tinggalnya menjadi rawan tindak kejahatan. "Kami mendukung tindakan yang dilakukan kepolisian untuk melakukan penggerebekan," tandas Umardin.

Seorang pelanggan, Johan (bukan nama sebenarnya), mengaku saat mengekspresikan emosi dengan bernyanyi bebas seperti di tempat karaoke mampu mengendorkan saraf otak setelah sekian lama memikirkan hal-hal yang bersifat serius. “Biar suaranya fals, tapi rasanya plong.

Teriakan lantang, bebas, seperti ini mampu menghilangkan rasa stres dalam otak yang sekian lama kaku. Di rumah kan tidak bisa,” ujar pria yang berprofesi sebagai seorang pengusaha warga Tlogosari ini dengan terkekeh. (Abdul Mughis)


Ketika Pemahaman Musikalisasi Puisi Salah Kaprah


Ribuan mahasiswa baru 2012 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang dihibur perhelatan musikalisasi puisi di joglo kampus III, Senin (17/9) pagi.

Perhelatan yang telah menjadi tradisi tahunan tersebut menjadi cabang perlombaan yang paling dinantikan. Sehingga empat grup dari fakultas, masing-masing: Tarbiyah, Syariah, Dakwah dan Ushuludin itu bersaing ketat mengadu gengsi.

Tampak sejumlah sporter militan dengan memakai ikat kepala, wajahnya dicoreng-coreng, bersemangat meneriakkan yel-yel "Tarbiyah harus menang!", pun bersambut "Syari'ah yang menang!". Begitupun fakultas yang lainnya.

Ekspresi tegang tak bisa disembunyikan saat menanti tiga juri, masing-masing: Widyo Leksono atau akrab dipanggil Babahe, Agung Hima dan Day Milovich, membacakan hasil perlombaan.

Beberapa kelompok tampak murung lantaran jagonya keok. Sementara yang lain bersorak gembira mendengar fakultasnya juara. Terpilih juara dalam lomba musikalisasi puisi Orsenik IAIN Walisongo Semarang tahun 2012; juara 1 disabet oleh Fakultas Syari'ah, juara 2 ditempati Fakultas Ushuludin. Fakultas Tarbiyah harus puas duduk di peringkat 3 dan disusul Fakultas Dakwah.

Salah satu juri Babahe mengatakan perlu benang merah terkait pemahaman atau definisi musikalisasi puisi. Menurutnya, hal itu diperlukan, sebab musikalisasi puisi yang ada saat ini terkesan masih campur-aduk. "Ada yang memahami musikalisasi puisi adalah puisi yang dimusikkan. Ada yang dipahami sebagai pembacaan puisi diiringi dengan musik. Atau penggabungan dua-duanya," ungkap seniman senior berambut putih-gondrong itu.

Menurut Babahe, berbicara tentang puisi tidak lepas dari diksi, intonasi, artikulasi, dan lain-lain. "Hampir semua peserta mengalami kecelakaan di atas panggung. Mulai pengucapan yang tidak jelas, penghayatan, ekspresi wajah maupun gerak tubuh. Fatalnya, kebanyakan peserta menerjemahan penghayatan cenderung ke teater," katanya.

Sementara musik tidak lepas dari nada, irama, birama, tempo dan lain-lain. Musik juga tidak lepas dari intro, interlude, coda atau penutup. "Kebanyakan peserta lupa interlude, lupa musik penutup. Mereka cenderung asyik menonjolkan musik prolog. Lupa memelajari karakter alat musik yang dipakai," tambah Babahe.

Padahal nada dalam musik bisa dibagi dua, pentatonis dan diatonis. Pada gamelan sendiri ada dua nada: pelog dan selendro. Masing-masing sulit digabungkan. Babahe mencontohkan, gamelan yang digunakan oleh Emha Ainun Najib itu bukan murni gamelan biasa. "Cak Nun menggabungkan alat musik gamelan dengan alat modern itu sudah distem. Sehingga bisa selaras nadanya," ujar Babahe.

Namun demikian, Babahe memberikan apresiasi positif terhadap kreativitas dan keberanian para musisi IAIN Walisongo itu. "Oke kreativitas Anda saya terima, meski terkesan memaksakan alat musik gamelan itu. Ajang ini untuk mengeksplorasi karya, terutama dalam hal musikalisasi puisi," imbuhnya. (Abdul Mughis)

Juri lain, Agung Hima mengungkapkan hal senada. Bahwa kecelakaan itu terlihat saat musik lebih dominan ketimbang puisinya. "Ada beberapa teks yang mencoba dipadukan. Saya juga melihat banyak sisi dramatisasi dalam penggarapan. Sebenarnya, bagi saya hanya sekedar dijadikan tambahan. Rata-rata peserta terlalu dominan di intro, sehingga puisi hanya menjadi tempelan," kata Agung Hima.

Teaterikal Puisi

Sementara penyair senior asal Rembang Day Milovich mengatakan, pertunjukan kali ini bukan musikalisasi puisi, tapi teaterikal puisi. "Semua peserta miskin variasi. Arransemennya terkesan hanya bergantian bunyi. Konsep musikalisasi jadi arransemen lagu. Akhirnya musikalisasi itu tidak kelihatan. Sebaiknya perlu membuat workshop musikalisasi puisi agar lebih kaya,” katanya.

Day melanjutkan, musikalisasi puisi itu proses menyajikan musik dan puisi, dari puisi. Artinya bukan dari musik ke puisi. "Unsur puisi sebagai nyawa pertunjukan. bukan lagu yang berasal dari puisi." terangnya usai pertunjukan.

Menurutnya, peserta perlu memahami karakter unsur bunyi musik modern dan gamelan. "Karena kesalahan fatal yang terjadi adalah saat memainkan nada diatonis dan pentatonis bersamaan," pungkasnya. (Abdul Mughis)


Aha, Beginilah Cara Polwan Nguri-uri Kabudayan Jawi



SIAPA sangka, grup karawitan ini beranggotakan Polwan (polisi wanita). Mereka adalah anggota Polri di jajaran Polrestabes Semarang. Grup tersebut bernama “Bojong Laras”.

Bukan memegang peluit, tapi mik. Bukan kesan “sangar” tapi kelembutan. Mereka tengah melantunkan gending “Caping Gunung” di sela mengemban tugas sebagai abdi negara. Mereka juga tanpa beban bermain kelembutan dengan cara menabuh seperangkat alat gamelan.

Diakui atau tidak, era post modernisme seperti saat ini, budaya lokal semakin tergilas oleh kerata budaya kapitalisme. Tradisi-tradisi lokal pun kian hilang tenggelam ditelan zaman. Maka keberadaan grup karawitan Bojong Laras yang masih eksis di tengah gempuran budaya Barat ini patut diacungi jempol.

Pengurus Karawitan Bojong Laras Slamet mengatakan, Bojong Laras telah lahir sejak 21 tahun silam. Grup kesenian Jawa ini dirintis oleh senior Inspektur Intenden (Sekarang Kombes-red) Salempang pada tahun 1990. “Para pendahulu mendirikan grup ini sebagai upaya nguri-uri budaya Jawa ala polisi,” katanya.

Menurut Slamet, selain berkesenian, melalui Bojong Laras, sebagai media refreshing bagi para anggota polisi di sela-sela menjalankan tugas negara. “Di samping itu agar budaya jawa yang agung itu agar tak punah,” tandasnya baru-baru ini.

Dijelaskan, nama Bojong Laras sendiri mengandung arti yang cukup filosofis. Kata “Bojong” adalah nama Komando di Polrestabes, sedangkan “Laras” artinya kesesuaian, keselarasan dan keharmonisan. Ini merupakan manifestasi musik yang mampu menyatukan unsur berbeda. Sehingga makna itu menjadi sebuah kebaikan. “Coba kalau kita mendengarkan alunan gending jawa. Ada spiritualitas yang berbeda. Memahaminya terasa adem di hati lho,” ujarnya.

Ia mengakui, para anggota polisi kesehariannya menjadi abdi negara memang cukup melelahkan. Sebab dibutuhkan konsentrasi kerja dan tanggungjawab besar. Namun hal itu tetap dilaksanakan dengan ikhlas. Bahkan, adanya karawitan Bojong Laras bukan sekedar sebagai hiburan, namun juga mampu memediai polisi untuk berbudaya. “Kami merasa tidak terbebani, justru sangat menyenangi suasana yang akrab dan bersahaja,” ujarnya di sela-sela latihan yang biasa dilakukan setiap hari rabu siang, pukul 14.00 di Gedung lantai 2 SPKT Polrestabes Semarang.

Namun ia juga mengaku tak gampang merawat keutuhan grup tersebut. Bojong Laras sempat mengalami pasang surut karena pergantian personil. Hingga pada awal 2011, grup ini perlahan bangkit. “Memang tak seluruh pengurus wanita, akan tetapi rata-rata personilnya didominasi polwan,” tambahnya.

Hingga saat ini tercatat 12 polwan, masing-masing Aiptu Sumiyati yang selalu setia menjadi penabuh Peking/Saron Penerus, Bripka Endang (penabuh Saron), Aiptu Warsi (penabuh Saron), Bripka Santi (penabuh Demung), Aipda Rusmini (penabuh Bonang), Bripka Ani (penabuh Bonang Penerus), Aiptu Sriyatmi (penabuh Gong), Briptu Mega (penabuh Kenong), Briptu Novida (penabuh Sletem), dan Aiptu Dhika (penabuh Waranggana).

Mereka berlatih di bawah pembinaan Kepala Bagian Sumber Daya (Kabag Sumda) Polrestabes Semarang , AKBP Dwi Nurwardani yang juga terlihat turut “unjuk gigi” nyinden langgam Jawa. “Untuk menjaga kualitas dan kemurnian seni karawitan, kami mengundang pelatih atau guru dari luar Polri,” tambahnya.

Adanya latihan rutin itu, membuat suasana kantor polisi ini menjadi mistis. Sebab, bunyi-bunyi khas nada pentatonik dari alat-alat gamelan itu cukup kontras dengan suasana kantor polisi sewajarnya. “Untuk ke depan, kami berharap peralatan bisa lebih lengkap, sehingga anggotanya juga tambah semangat,” pungkas Dwi. (Mughis/LSP)